JAKARTA (25/5)–Dalam dua dekade terakhir, setidaknya telah puluhan kali media -media asing yang kemudian meliput faith base environmental movement, atau Gerakan lingkungan berbasis keimanan. Seperti gerakan ekopesantren, green masjid atau eco masjid, atau hutan wakaf, dan banyak kemudian NGOs global—seperti Greenpeace– tertarik melakukan investasi melibatkan Gerakan Lingkungan berbasis agama.
Di Indonesia, kemudian dikenal setelah media internasional menyebutnya Green Islam, Islam Hijau. Dimana aksi lingkungan dilakukan oleh organisasi dan institusi atau inisiatif Lembaga seperti seperti masjid istiqlal, dan para pelopor yang menekuni upaya membuat nyaman dan meminimalisis footprint ekologi dengan cara mendaur ulang sampah, atau melakukan ekonomi berputar (circular economy), seperti di Pondok Pesantren Tahfiz Darul Ulum Lido, Bogor.
LIHAT:
The New York Times: What Can ‘Green Islam’ Achieve in the World’s Largest Muslim Country?
Deutche Welle: Can a ‘green Islam’ save Indonesia from climate collapse?
Cristian Science Monitor: With ‘Green Islam,’ climate action is a religious duty – and an act of community
Media Nasional dan media pesantren tidak ketinggalan memberitakan Gerakan ekopesantren. Majalah Tempo membuat edisi khusus tentang pesantren hijau ramah lingkungan yang meliput tentang kiprah pesantren dalam bidang pengelolaan lingkungan hingga arsitektur klasik pesantren ramah lingkungan di Pondok Pesantren Pabelan, Magelang, Jawa Tengah.
LIHAT:




